breaking
Template images by mskowronek. Powered by Blogger.

OPINI

OPINI

SASTRA

SASTRA

JURNALISTIK

JURNALISTIK

Foto: IST
Satu hari. Sekitar pukul 04:25 menit WIT. Saya melintasi jalan raya Abepura - Sentani. Saya melintas jalan itu dengan kecepatan yang cukup tinggi. Maklum, suasana jalan masih sepih dan sunyi. Saya dari Kotaraja. Tujuannya ke arah Waena. Sepanjang jalan, saya jumpai beberapa tukang pembersih jalan melakukan aktivitas pembersihan jalan. Mereka melakukan pekerjaan mereka dengan senjata mereka: Sapu Lidi dan Serok. Yang disasar adalah sampah-sampah. Setiap pagi secara rutin mereka melakukan pekerjaan itu. Tak tahu bila mereka tidak secara rutin melakukan pembersihan jalan setiap hari. Mungkin saja tidak ada kata “Libur” dalam kamus pekerjaan mereka. Sebab, entah libur atau tidak, entah hujan atau tidak, selalu mereka sempatkan diri untuk bangun lebih awal. Bangun lebih awal untuk melakuan pembersihan jalan. Supaya jalanan di kota ini tetap bersih, indah dan nyaman untuk setiap orang di kota ini.
Tidak banyak orang tahu mereka, para pembersih jalan ini. Padahal, di balik kebersihan jalan di sepanjang kota ini adalah mereka. Tanpa mereka, bisa dibayangkan, sampah berserahkan di mana-mana. Mereka patut diberi penghargaan. Penghargaan bisa diberikan oleh siapa pun dia. Bukan dengan memberikan uang atau barang berharga. Tetapi, sebisa mungkin sadar, bahwa sepanggal sampah plastik, atau apa pun yang kita buang di jalan, entah sengaja maupun tidak sengaja, kita memberikan beban kerja yang besar pada mereka. Ini yang tidak pernah disadari. Maka, tak salah, jika penghargaan itu mulai diberikan saat ini. Dan tak salah, jika kita patut memberikan apreasisi dan mengucapkan terima kasih pada mereka.
Kembali ke topi. Tentara dan Kasih.
Ketika saya sampai di Padang Bulan. Tepatnya di depan JJ Mart. Atau agar lebih mudah diketahui, di depan rumah dinas rektor Universitas Cenderawasih. Ada sebuah mobil Inova terparkir di pinggir jalan. Ada seorang pria berpapakian loreng telrihat sibuk. Ia terlihat membuka tangki mobilnya. Hawa masih dingin. Masih agak gelap.
Saya lewat begitu saja. Tidak hiraukan apa yang ia sibukkan. Setelah sampai di pos Polisi, depan jalan masuk ke Perumnas 4, hati nurani berkata harus kembali pada pria berpakaian loreng tadi. Saya kembali. Ia terlihat gugup melihat saya parkir di depannya. Saya menanyakan, apa yang ia sibuk. “Mobil kenapa om”? tanya saya singkat. Secara emosional, saya tidak mau bicarapanjang lebar dengan dia. Saya tahu bahwa ia tentara. Ya, tentara yang biasa jalan tembak warga sipil di Papua. Juga di Indonesia ini pada umumnya.
“Mobil mogok ipar” jawabnya singkat. Lalau ia lanjutkan, “Kira-kira di dekat-dekat sini ada yang jual bensin ka?” tanya dia lagi. Lalu saya sampaikan bahwa, ini sudah agi sekali. Dan di dekat-dekat sini, tidak ada yang jual bensin. “Kalo dekat-dekat sini, trada yang jual bensin. Jadi om tunggu sampe pagi sudah. Kalau sudah pagi, biasanya banyak yang jual,” jawab saya sambil memberikan saran.
Setelah itu, saya pergi. Ada niat membantu. Tetapi, karena sepanjang jalan yang saya lintas tadi, memang tak ada yang jual bensin. Apalagi sudah pagi. Saya terus jalan ke Waena. Saya tak kenakan jaket maupun switer.
Setelah saya jalan, lewat Hola Plaza, mata saya terus pantau di pinggir jalan kiri maupun kana. Dengan maksud untuk melihat dan mengecek ada yang jual bensin atau tidak. Begitu sampai di puncak tanjakan sepanggal yang ada di Hola, tidak ada yang jual. Sampai di dekat Denzipur. 30 Meter sebelum sampai di Denzipur, ada satu mama masih menjual bensin. Bensi-bensin itu ia isi dalam botol air mineral jenis Aqua yang besar. Saya tanya harganya. Satu botol seharga 15 ribu. Cukup mahal. Saya cek uang dalam saku. Ada 50 ribu.
Saya lalu membeli bensin itu dua botol. Saya bawa ke tentara yang tadi. Ia terkejut saya kembali. Saya tawarkan dua botol bensin, atau dua liter bensin yang saya bawa. Lalu saya memberikannya. Ia terima dengan wajah yang ceria seraya mengucapkan terima kasih.
Ia tanya, satu botol harganya berapa. Saya bilang ini satu botol harganya 15 ribu. Ia kembalikan uang yang saya pake beli bensi itu. “Masih ada bensin juga ka?” tanya dia. “Ada tiga botol lagi, kalau om mau tambah, naik pelan-pelan ke atas baru beli”. Setelahnya, saya pamit dan teruskan perjalanan saya.
Di balik cerita ini, ada dua hal. Pertama, sebagai orang Papua, ketika saya melihat seorang sosok pria atau wanita yang berpakaian loreng atau coklat abu-abu, maupun berseragam hitam, secara tidak langsung, yang ada di kepala, adalah kejahatana dan perilaku mereka terhadap orang asli Papua. Yang muncul paling pertama adalah citra institusi mereka karena ulah oknum-oknum di dalam institusi mereka di lapangan. Niat membantu menjadi tipis.
Ke dua, sebagai orang yang mengimani seorang tokoh yang mengajarkan Kasih pada sesama, tentu harus mencari cara untuk membantunya. Ia adalah wujud pengaplikasian dari ajaran Kasih yang saya terima dan percaya dari ajaran agama saya.
Di awal-awal, akan ada bentrok antra dua hal ini. Antra Dendam dan Kasih itu. Dan pada cerita ini, yang menang adalah Kasih. Kasih menembus batas. Kasih itu murah. Kasih itu indah. Kasih itu menembus perbedaan.

Selamat Malam.
Kucingan de pu bentuk tu kaya begini. (Foto: thewanderer79.wordpress.com)
Perut rasa tra enak skali. Masyarakat di kampung tengah su demo brantakan. Sa tra bisa tahan de pu rasa perih. Keringat dingin. Badan panas tiba-tiba. Tapi bukan dispenser. 

“Sugeng ndalu mas….” Sa sapa paitua yang ada jaga de pu tempat makan. 

Di sini dong biasa bilang kucingan. Ini hanya de pu nama tempat jual dan beli makan. Dar awal dengar nama kucingan ini, sa piker dong jual daging kucing. Tapi bukan. Itu hanya de pu nama saja. Tara tau dong kasi nama kucingan karna apa. Sampe satu waktu, sa pu teman ajak sa makan. De bilang kitong makan di KFC saja. Biar lebih murah. Sa piker benar. Tau-tau yang de maksud Kucingan. Mungkin karena de pu nasi bungkus yang hanya segumpal. Dan lauk seadanya. Bisa potongan ayam, yang sangat kecil, teri maupun telur. Sejak sa dating nih, nama kucingan sangat familiar di sini. 

Kucingan ini, biasanya paling rame. Hampir di setiap jalan ada. Sa juga karena lapar, datang mampir ke kucingan dekat Tugu Suharto ini. 

Sa pilih kucingan ini, dari pada pergi jauh-jauh, dekat rumah, dan bisa makan sampe kenyang. Walopun nasinya kecil. Tapi paling tidak, masih ada pilihan lain. Supaya bisa makan. Biasanya ada sate macam-macam. Ada sate Ampla Ayam, telur, usus ayam, Tempe goreng/mendoan, tahu bakar, dan macam-macam. 

Pas di paitua ini de pu tempat, nasi sisa tiga bungkus. Ada pisang rebus. Pisang sepatu. Dua buah harganya seribu. Sa makan pisang empat buah. Tambah deng sate telur puyu dua. Sate ini, dong buat begini, rebus telur, kupas de pu kulit habis itu tusuk di tusuk sate, dan bakar. Ini mirip dengan sate. Dan de pu nama juga sate telur. Kalo makan, enak skali. Walopun murah, makan di kucingan, yang penting orang-orang yang ada demo ni dong harus tenang. Kan begitu, orang makan untuk kenyang. hehehe

Jadi, kalo makan di kucingan, ko cukup keluarkan uang 10 ribu itu bisa makan sampe kenyang. Bisa tambah es teh ato teh hangat. Kira-kira begitulah kalo makan di Kucingan. 

Kembali ke Laptop. Eha salah, kembali ke topik awal. JADOEL. 

Maksud saya bukan mau bilang kucingan tuh jadul. Tidak. Sama sekali tidak. 

Pas sa lagi makan, sa dengar paitua de pu lagu-lagu yang de putar nih, lagu-lagu Jadul. Muali dari Meriam Belina dan de pu kawan-kawan seangkatan. Sa juga suka lagu-lagu jadul. 

Jadi sa tanya, kenapa kok yang diputar lagu-lagu jadul?

Lah, mas, aku kan orang tua dan jadul. Trus sa ni dari kampung. Di kampung sana, trada lagu-lagu moderen. Yang ada pasti lagu-lagu kaya begini, atau dangdut. Dan itu saya suka. Kalau saya dengar lagu-lagu sekarang, itu tidak cocok. Saya tidak suka. Makin tua makin jadul dan makin mencintai jadul-jadul itu. 

Ah.... pace de jadinya kotbah sa ni. hahaha... Pace su umur juga, baa..... tapi yang lucu, de bilang begini, tapi saya ini telat kawin. Jadinya sampai sekarang anak cuman satu. pace ko curhat lagi. Hehehe....

Trus, de masih sambung bicara, sa ni suka lagu-lagu metal, dangdut dan lagu-lagu model ini. Tapi sa pikir, lagu yang tadi de ada pasang itu, lagu galau. Jadi sa tanya balik lagi, emang mase lagi galau, kok yang diputar lagu jadul tapi galau? Yang bikin semangat dikitlah. 

Maklumlah mas. Ini kan aku rekam dari Radio juga. Hahaha.... de pu usaha saja. Bisa rekam ulang dan dengar. Waoo.... 

De cerita lagi, mase sukanya lagu apa. Lagu-lagu rege gitu? Nuwun sewu, soale rambutnya mase kayak gitu. De bilang begitu, dengan sedikit takut. 

Sa ketawa saja. Dan sa bilang. Ya, saya suka lagu Rege.
 
De sambung lagi, kalu aku mah, sukanya dangdut. Di sini kan jarang, yang kayak gitu-gitu (konser regge rege maksudnya.

De biasa buka dari agak sore, jam-jam lima sampe jam 2 teng kalo tra mengantuk. Tapi kalo de pu mata su tra bisa tahan, de bilang cuman sampai jam satu

Jadinya, sa yang terakhir makan di de pu tempat untuk malam ini.  

Selamat pagi menyambut Sahur, Semarang. 

 

 


Mau bilang burung surga
Mau bilang perusahaan raksasa di dunia
Mau bilang salju di hutan tropis
Mau kultur yang unik
Mau bilang surganya para mafia
Semua ada di sini

Mau bilang negeri kaya
Mau bilang negeri yang miskin
Mau bilang negeri yang dijanjikan
Mau bilang negeri yang dijajah
Mau bilang negeri yang ditindas
Mau bilang negeri yang kekayaan alamnya sedang dirampas
Semua itu sebutan untuk negeri ini

Mau bilang separatis
Mau bilang bodoh
Mau bilang terbelakang
Mau bilang termiskin
Semua itu cap untuk negeri ini

Mau bilang Merauke
Mau bilagn Boven Digul
Mau bilang Asmat
Mau bilang Mappi
Mau bilang Sorong
Mau bilang Raja Ampat
Mau bilang Jayapura
Mau bilang Wamena
Mau bilang Paniai
Mau bilang Puncak Jaya
Mau bilang Timika
Mau bilang Nabire
Mau bilang Serui
Mau bilang Manokwari
Mau bilang Fak-Fak
Mau bilang Nduga
Mau bilang Pegunungan Bintang
Mau bilang Yahukimo
Mau bilang Sarmi
Mau bilang Mamberamo
Mau bilang Yalimo
Mau bilang Dogiyai
Mau bilang Deiyai
Mau bilang Intan Jaya
Mau bilang Tolikara
Mau bilang Wondama
Mau bilang Port Numbay

Itulah saya, PAPUA

Penangkapan aktivis di Jayapura, 2 Mei 2016

2 Mei 2016 di Papua, digelar berbagai macam kegiatan. Mulai dari penangkapan ribuan aktivis Papua di Jayapura, Sentani, Wamena, Merauke, Sorong, Fak-Fak maupun Jawa dan Sulawesi. Tidak hanya itu, pada tanggal yang sama, diwarnai juga dengan pembakaran bendera KNPB dan Bintang Kejora, Pengibaran bendera raksasa yang ‘mengatasnamakan’ tujuh suku di wilayah perbatasa, penolakan KNPB dari Barisan Merah Putih di Sentani dan Wamena hingga wacana pembuatan tugu pancasila di Keerom. Satu perisiwa yang tak kalah penting lainnya, adalah kedatangan Ramos Horta, mantan presiden Timor Lester ke Jayapura. Itulah warna-warni. Berikut ini akan dibahas satu demi satu setiap persitiwa yang terjadi di Papua pada 2 Mei kemarin.


1.    Peringatan Hardiknas

Dalam kalender Indonesai, setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional atau dikenal dengan sebutan Hardiknas. Tahun 2016, hardiknas jatuh pada hari Senin.  Pada tanggal 2 Mei, peringatan Hardiknas dilakukan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Upacara itu dipimpin oleh Benhur Tommy Mano, Wali Kota Jayapura. Upacara berlangsung di dalam suasana tegang di wajah Kota Jayapura. Peringatan Hardiknas, sejauh ini tidak ada bedanya dari tahun ke tahun. Hanya berakhir di seremonial. Tidak ada perbaikan mutu pendidikan yang baik di tanah Papua.

Sementara itu, digelar upacara pegibaran bendera raksasa di kompleks Tower Mercusuar Skouw, perbatasan RI-PNG. Upacara tersebut dihadiri oleh kepala distrik Muara Tami, Supriyanto, Danyon Satgas Pamtas Yonif Mekanis 411/ Pandawa, Letkol TNI Nandan Dimiati, Danramil Muara Tami, Kapten Inf Suhardi Kadir, Waka Polsek Muara Tami, Ajun Komisaris Polisi Subur Hartono, Kapospol Perbatasan RI-PNG,  Inspektur Polisi Dua Elieser. F, Danpos AL Muara Tami, Peltu Trimo, koordinator badan perbatasan Skouw, Finantius Rahawaren dengan peserta upacara, 1 SSK TNI AD, 1 regu Polri, 1 SSK pelajar SMK, 1 regu pelajar SMP, 1 regu pelajar SD.  

Upacara seperti ini sering dilakukan pada Mei dan Agustus. Biasanya dilakukan untuk menunjukkan bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia. Dan rakyat Papua merasa aman dan nyaman dengan indonesia. Nyatanya tidaklah demikian. Dan kalau mau jujur, kegiatan seperti ini dilakukan bukan atas kesadaran orang Papua, tetapi karena ada yang ‘menggerakkan’ dengan hal tertentu.


2.      Pengibaran Bendera Merah Putih di Skofro

Kalau dengar nama Skofro, pasti akan teringat dengan drama penculikan yang ramai dibicarakan tahun kemarin. Nama kampung ‘Skofro’ naik daun hingga di telinga para pejabat RI di Jakarta. Gegara drama penculikan yang didramakan di hutan dekat perbatasan RI-PNG pada waktu itu.

Terlepas dari itu, kali ini ‘nama naik’ lagi karena mengibarkan bendera merah putih raksasa di kampung Skofro. Ini tentu bikin para petinggi militer dan petinggi negara senang. Karena masih ada orang Papua yang bentangkan bendera indonesia. Ukuran ‘raksasa’ pula. Tapi apakah itu datang dari niat masyarakat setempat? Alam Arso yang mengetahuinya.

James Alfred Kembu, salah satu pemuda yang Keerom yang juga pemuda asli Arso mengatakan pengibaran bendera Merah Putih raksasa itu untuk memperingati hari kembalinya Papua ke pangkuan ibu pertiwi atau Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak 1 Mei 1963.

Juga untuk menegaskan kepada semua pihak, terutama generasi muda bahwa Papua sudah menjadi bagian dari NKRI. Makna dari kibar bendera itu adalah kami tidak mau lagi ada isu-isu propaganda yang dibuat oleh ULWMP dan KNPB atau kelompok yang tidak bertanggungjawab.

Kembu mengaku, sebagai kaum muda di Keerom, daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Papua Nugini (PNG), garda terdepan bangsa menginginkan merdeka di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan serta jauh dari kebodohan dan kemiskinan.

Pertanyaannya adalah, waktu ber-ribu-ribu hektar hutan Keerom digarap untuk jadikan lahan perkebunan kelapa Sawit kelompok Kembu ini ada di mana? KNPI yang selama ini ada di Papua ini mengurus apa? Tidak sadarkah bahwa kaum non Papua di Keerom jauh lebih banyak ketimbang penduduk asli Papua yang perbedaannya 40% orng asli (Keerom) dan 60% penduduk non Papua.

Kadangkala lebih merasa hebat untuk bicara di media sebagai panggung mencari nama. Tetapi hasilnya tetap saja berakhir di mulut. Tidak ada tindakan nyata apa-apa. Merdekan diri dari hal-hal kecil yang melilit kaum muda di Keerom dulu. Sehingga apa yang diwacanan sejalan dengan tindakan nyata.

Betangkan bendera raksasa dengan maksud mau bilang bahwa Papua bagian dari NKRI? Atau hanya merayu untuk memuluskan datangnya lembara-lembaran berharga. Lalu, kalau pun itu masyarakat Keerom itu, saya menduga, masyarakat ikut karena terpaksa. Ya terpaksa karena takut diteror. Hal lain, nasib para repatrian di Keerom apakah pernah disuarakan? Tugas KNPI tidak hanya berdebat di atas meja. Tidak hanya bertarung dan bicara sampai mulut berbusa untuk sesuatu yang berakhirnya hanya wacana. Tunjukkan bahwa KNPI adalah wadah pemuda yang berpihak pada rakyat.


Wacana Bangun Tugu  Pancasila

Lagi-lagi, ketua KNPI Keerom, Piter Gusbager mengutarakan jika ingin membangun tugu Pacasila. Karena ingin mengenang dan manamkan nilai-nilai pancasila. Menurut saya ini aneh. Kebijakan negara ini mulai jauh dari nilai-nilai pancasila, kok mau bangun tugu? Keuntungan untuk masyarakat setempat dari tugu itu apa? Tapi ada satu hal yang menarik, yakni, soal peredaran ganja di Keerom. Yang akhir-akhir ini ditemuka lahan kebun ganja. Sebiknya, bicaralah untuk membebaskan pemuda Keerom dari genggaman belenggu ganja. Bicara muluk-muluk itu nanti. Kerja dulu. Buktikan bahwa KNPI ada untuk selamatkan generasi muda di Keerom dan di Papua.

Persoalan yang mendesak adalah melihat berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Keerom. Persoalan yang amat kompleks. Mulai dari penderitaan masyarakat karena hutan yang dulu memberikan hidup, kini telah berubah jadi lahan sawit. Tekanan dari aparat yang makin hari makin jadi untuk menekan rakyat. Generasai telah terpesona di jalan dengan ganja, miras dan akhirny amenjadi generasi pengangguran. Ha-hal seperti ini sangat urgen untuk diselesaikan. Bukan membangun tugu yang setelah dibangun akan menjadi benda mati yang tidak akan berubah dari waktu ke waktu.


3.      Pembakaran Bendera KNPB dan Bendera Bintang Kejora di Sentani

Pada momen peringatan hari pendidikan nasional tesebut, segelintir orang yang mengatasnamakan masyarakat Sentani mendatangi kantor bupati kabupaten Jayapura di gunung merah, Sentani melaukan melakukan demo. Demo itu bukan untuk memperingati hari pendidikan. Tetapi untuk memperingati hari ‘integrasi’ Papua ke Indonesia yang jatuh sehari sebelumnya, pada Minggu 1 Mei 2016.

Sangat terlihat jelas. Bahwa aksi itu melecehkan pemimpin rakyat Papua Barat yang dibunuh oleh Kopassus, Tehys Hiyo Eluay. Segelintir orang ini terkesan seperti diboncengi. Demo yang dimulai dari lapangan Makam Theys merupakan bagian dari pelecehan terhadap perjuangan yang dibagun oleh Theys.

Segelintir orang yang jumlahnya juga bukan puluhan, tetapi lebih sedikit yang kemudian oleh media disebutkan bahwa massa rakyat Papua. Media turut memebas-besarkan aksi yang dilakukan di Sentani ini.

Berikut ini saya tulis berita yang dimuat di beberap media. Antara lain, Antara Papua, Viva News, Oke Zone dan beberapa media lokal di Papua yang memberitakan peristiwa tersebut.
-       
         Kami masyarakat adat khususnya warga Sentani tidak terlibat dalam kelompok kelompok liar seperti kelompok KNPB yang selama ini sudah meresahkan masyarakat. Disebutkan, ada ratusan warga Sentani menolak kehadiran KNPB yang kerap melakukan demo anarkis. Ia terucap dari penanggungjawab aksi, Sarlen Dobondoy. Sayangnya, ia tidak menyebutkan bahkan tidak menujukkan faktor menjadikan tolak ukur untuk sebut KNPB sebagai kelompok liar yang meresahkan masyarakat. Kelompok ini juga tak bisa membuktikan KNPB adalah organisasi liar. Penangkapan ribuan aktivis KNPB di Jayapura menunjukkan, bahwa KNPB sama sekali tidka dikategorikan sebagai kelompok liar. Perntanyaan sederhana, kalau KNPB itu liar, kenapa ribuan rakyat Papua mau dengar himbauan KNPB. Dan kenapa pula, kelompok yang mengatasnamakan masyarakat Sentani ini tidak turunkan massa yang lebih dari lima puluh.

Dikatakan, Hari ini kami, masyarakat Sentani? sepakat menyatakan kepada para pejabat bahwa kita harus sejahterakan rakyat. Kami tidak akan bergabung dengan kelompok KNPB karena harus berpatokan kepada tatanan adat dan NKRI. Masalahnya kemudian, pernyataan ini bisa dibedah dan kalau mau lihat, pernyataan-pernyataannya ini mengarah kepada kepentingan yang diboncengi oleh segelintir orang.

-     Viva News dan Oke Zone - Dua media yang berbasis di Jakarta ini menurunkan berita terkesan membesar-besarkan fakta yang ada. Kalau melihat dari foto di media yang beredar, terlihat jelas bahwa orang yang demo ke kantor bupati Jayapura tidak berjumlah ratusan. Tetapi ada dua puluhan. Malah dalam pemberitaan disebut ada 700-an massa pendukung KNPB.

Disebutkan, msyarakat adat Sentanim, yang diwakili oleh segelintir orang itu menyatakan tidak akan bergabung dengan kelompok KNPB karena harus berpatokan kepada tatanan adat dan NKRI harga mati. NKRI Harga Mati juga mudah untuk dijumpai di pos-pos militer yang ada di Papua. lalu, adakah ha baru? Tidak ada.

Lalu, jumlah aktivis yang ditahan berjumlah 700-an ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Di mana, bukan 700-an yang disebutkan Viva News, tetapi jumlahnya melewati angka 1000. Jelaslah, bahwa media nasiona, kadang mendewakan Polisi dan TNI serta petinggi birokrasi di negeri ini untuk membuat berita tentang Papua yang tidak melihat fakta yang ada secara cermat. Sehingga cenderung membuat image Papua jadi daerah konflik. Karena selalu meminjam mulut dari yang didewakan, lalu mewartawakan tanpa melakukan check and recheck.

Beda dengan Viva News, Oke Zone dalam pemberitaannya menyebukan, ribuan orang telah ditangkap. Namun, soal pembakaran bendera, tetaplah sama.


Tuntuan yang Diboncengi

Sebelum mencoba untuk memahami dan tarik kesimpulan, ada baiknya simak pernyataan siak dari segelintir masyarakat adat di Sentani. Berikut tuntutan mereka:
1.      Masyarakat adat Sentani tidak ada yang terlibat ataupun tergabung dalam kelompok KNPB.
2.      Masyarakat Sentani menentang keberadaan kelompok KNPB di Sentani. Karena keberadaan KNPB selama ini telah meresahkan masyarakat.
3.      Menolak ULMWP menjadi anggota MSG karena selama ini telah membohongi masyarakat Papua.
4.      Meminta kepada pemerintah dan aparat keamanan untuk bersikap tegas terhadap masyarakat tertentu telah berbuat kriminal untuk dikembalikan ke daerah asalnya.
5.      Masyarakat adat Sentani mengharapkan terciptanya keamanan dan ketertiban di wilayah kabupaten Jayapura sehingga pembangunan dapat berjalan dengan baik.
6.      Meminta kepada pemerintah baik kabupaten maupun provinsi untuk menyerahkan proyek pembangunan di wilayah Kabupaten Jayapura kepada masyarakat adat Sentani.
7.      Meminta agar pemerintah daerah menyelesaikan permasalahan sosial seperti pembayaran ganti rugi tanah bandara secepatnya.

Kalau memahami pernyataan sikap di atas ini, point utama yang dibawa ada di poin ke liam adan enam. Di mana, mereka meminta pemerintah baik kabupaten maupun provinsi untuk menyerahkan proyek pembangunan di wilayah Kabupaten Jayapura kepada masyarakat adat Sentani. Dan Meminta agar pemerintah daerah menyelesaikan permasalahan sosial seperti pembayaran ganti rugi tanah bandara secepatnya.

Sedangkan poin satu sampai lima hanyalah poin-poin tawaran yang digunakan sebagai isu agar demo yang mereka lakukan diterima dan menjadi sesuatu yang wao di telinga orang. Apalagi dibarengi dengan membakar bendera Bintang Kejora dan bendera KNPB. Karena bertepatan dengan 1 Mei, maka dibawah lagi pernyataan-pernyataan titipan. Pernyataan titipan yang kemudian digunakan untuk menekan KNPB di Papua serta menekan perjuangan ULMWP ke MSG. Jelas, karena sudah tidak ada lagi jalan lain, maka kini menggukan dan meminjam mulut masyarakat untuk menyampaikan bahwa demo itu murni dari segelintir masyarakat Sentani.

 
4.      Tuntutan Kerdil untuk KNPB

Tuntuta kerdil terhadap KNPB datang dari kelompok yang mengaku diri dari Barisan Merah Putih. Intinya, kelompok ini menoak keberadaan KNPB di Papua dan menyatakan keberadaan Papua di dalam Indonesia sudah sah. BMP merupakan satu organsasi kelompok masyarakat bentukan Jakarta. Ramses Ohee adalah ketua BPM Provinsi Papua. Dalam perjuangannya BMP selalu menyatakan, Papua sudah merdeka dalam Indonesia. Pada 2 Mei kemarin, di Wamena maupun di Jayapura, oleh BMP mengeluarkan pernyataan yang menyudutka KNPB dann menyataan KNPB adalah organisasi anarkis dan tidak sah yang ada di Papua.

 
5.      Ramos Horta, Mantan Presiden Timor Lester Berkunjung ke Papua

Di sela-sela rakyat Papua melakukan demo dan terjadi penangkapan ribuan rakyat Papua di Jayapura dan beberapa kota lain di Papua dan luar Papua, Jose Ramos Horta, mantan presiden Timor Leste berkunjung ke Papua. Dalam kunjungannya itu, pertama-tama di hari pertama ia bertemu dengan beberapa tokoh Papua yang berjuang untuk mempertahankan Papua di dalam Indonesia seperit Franz Alberth Yoku, Ramses Ohee, Nick Messet dan Jhon Norotouw di Jayapura. Setelah itu, berikutnya, ia kunjungi Bank Papua. hari kedua, ia bertemu dengan  Lukas Enembe, gubernur provinsi Papua. Dalam kunjungannya itu, ia menasihati gubernur Papua. selain itu ia meminta agar generasi muda Papua belajar dan belajar. Selain itu Ramos juga pertegas bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia dan rakyat Timor Leste tidak mendukung Papua lepas dari NKRI.

Ada hal lain yang ingin disampaikan lewat kunjungannya ini, tetapi itu adalah hak sepenuhnya seorang Ramos Horta. Ia adalah diplomat Timor Leste di masa Timor Leste berjuang untuk memisahkan diri dari Indonesia. Ia juga adalah peraih nobel perdamaian dunia. Tentu sebagai seorang dimplomat, ia tidak hanya membawa isu-isu yang disbutkan di atas. Ada hal lain yang ia ingin sampaikan. Tetapi tidak di jayapura. Bagaimana pun, ia adalah diplomat. Dia tahu kapan dia harus sampaikan apa dan di mana.

6.      Penangkapan Ribuan Aktivis KNPB dan AMP

Hal baru dalam sejarah, poisi Indonesia menangkap ribuan aktivis yang hendak menggelar demo damai di Jayapura, Merauke, Fak-Fak, Sorong, Sentani, Sulawesi dan Jawa Tengah. Jumah yang ditangkap sebanyak 1.888 orang yang ditangkap dalam sehari saat hendak melakukan demo damai.

Di jayapura, ribuan aktivis terus digiring ke lapangan bola, markas Brimob Polda Papua. kemudia ribuan aktivis dan mahasiswa ini dijemur di bawah terik matahari yang panas. Laporan dari Elsham Papua menyebutkan, 7 aktivis Papua dianiaya saat berada di sel tahanan Brimob Polda Papua.

Victor Mambor, pemimpin umum redaksi Jubi menyatakan, penangkapan ribuan aktivis dalam sehari itu merupakan sejarah baru sejak Papua dianekasi Indonesia maupun setelah reformasi.

Hal yang tidak disangka dan di luar dugaan. Kalau pada 13 April lalu aparat tidak memberikan ruang gerak untuk KNPB dan rakyat Papua melakukan demonstrasi ke DPR Papua, lain cerita dengan tanggal 2 Mei. Di mana, pada tanggal 2 Mei, ribuan rakyat Papua digiring ke Mako Brimob. Di sana, mereka tidak tinggal diam. Walaupun mereka dijemur di bawah terik matahari dan beberapa lainnya mengalami penyiksaan, mereka tetap nekat untuk berorasi dan kampanyekan Papua Merdeka di dalam pengawasan ketat aparat.

 
7.      Penangkapan Terhadap wartawan

Ardi Bayage, wartawan Suara Papua ditangkap aparat saat hendak melakukan kerja jurnalistik di lapangan. Ardi ditangkap di Lingkaran Abepura, lalu dibawah ke Polse Abepura lalu diarahkan ke Mako Brimob Polda Papua.  Ardi telah memperlihatkan ID Card press-nya, tetapi tetap saja polisi ngotot untuk menangkap dan menahan dia di mako brimob Polda Papua.

Menurut Kabid Humas Polda Papua, penangkapan wartawan Suara Papua adalah karena polisi tidak tahu bahwa Ardi waratwan. Tetapi, sesungguhnya bahwa apa yang diklaim oleh Polda Papua tersebut hanyalah untuk membela dan meindungi bawahannya yang melakukan pelanggaran hukum.

Seteah ditangkap, polisi banting HP-nya di aspal. Tidak hanya itu, polisi juga injak-injak ID Card Press milik Ardi. Selain itu, polisi juga menghapus semua foto dan video yang ada di dalam HP milik Ardi. Juga polisi sempat memukul Ardi. Hal itu polisi lakukan sehari menjelang hari pers dunia.



Penulis adalah Editor di www.suarapapua.com